Dari akhir tahun 2019 dunia kesehatan dibuat kalang kabut dengan sebuah bencana, suatu penyakit yg disinyalir diakibatkan oleh suatu virus. Banyak penelitian yang dilakukan oleh para ahli dibidangnya tentang asal usul virus tersebut, gejala penyakit dan cara pencegahannya. Para ahli berkesimpulan bahwa penyakit yang menyerang organ pernapasan tersebut terutama paru-paru disebabkan oleh Virus kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID-19).
Pandemi ini akhirnya sampai juga ke Indonesia tanah air kita tercinta. Pandemi Covid 19 ini bukan hanya membuat ribuan orang jatuh korban tetapi juga mempengaruhi segala lini kehidupan, salah satunya adalah masalah pendidikan.
Selama beberapa bulan Indonesia dilanda pandemi ini sekolah-sekolah diliburkan beberapa lama, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran daring (dalam jaringan).
Pembelaran secara online ini mengharuskan siswa atau peserta didik selalu harus bersinggungan dengan smartphone, komputer atau media lainnya yang bisa terhubung melalui jaringan internet dengan guru dan sekolahnya.
Kondisi ini membuat sebagian orang tua kalang kabut dalam mendampingi anaknya belajar, apalagi jika di rumah ada beberapa orang anak yang masih dalam usia sekolah . Kepanikan ini bisa ditinjau dari beberapa hal, di antaranya:
1. Kondisi ekonomi, jika secara finansial penghasilan orang tua pas-pasan bahkan sebagian besar jauh dari kata cukup. Dengan adanya pembelajaran daring mengharuskan orang tua mengeluarkan dana lebih untuk membeli kuota internet, syukur kalau ada subsidi atau bantuan dari pemerintah atau pihak tertentu lainnya.
2. Keterbatasan ilmu orang tua, hal ini merupakan salah satu kendala yang menjadi keluhan selama pembelajaran daring. Orang tua dengan jenjang dan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda dituntut bisa membimbing ananda mereka selama proses belajar dari rumah.
Hal ini mungkin bukan suatu kendala bagi mereka dengan kondisi ekonomi di atas rata-rata, mereka dengan mudah bisa mencari guru privat atau memasukkan ke lembaga bimbingan belajar tentunya ini harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Sedang bagi orang tua yang kondisi keuangan mereka yang terjepit apalagi selama pandemi sebagian besar kena PHK, usahanya tidak jalan dan lain sebagainya. Jangankan untuk mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk mencari bimbel (bimbingan belajar) bahkan untuk kebutuhan sehari-haripun mereka kesulitan.
3. Kesibukan orang tua. Bagi orang tua yang dua-duanya bekerja tentunya menjadi kendala untuk terus bisa mendampingi anaknya belajar di siang hari, dan saat pulang ke rumah di sore hari kondisi badan yang sudah lelah dan penat rasanya tidak maksimal lagi untuk membersamai anak belajar.
Begitulah keluhan sebagian orang tua menghadapi suasana anak-anak belajar daring di masa pandemi Covid -19 ini. Mungkin karena selama ini orang tua sudah merasa nyaman jika setiap hari mulai dari pagi hari sampai siang bahkan sore hari anak diantar ke sekolah dan pendidikan anaknya dipercayakan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Baik yang masih tingkat pendidikan dasar maupun tingkat menengah. Seolah-olah pendidikan anak menjadi tanggung jawab guru dan lembaga pendidikan saja.
Sejatinya pendidikan seorang anak itu tanggung jawab siapa? Tentunya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua, sebagaimana Firman Allah dalam sebuah ayat sebagai berikut.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ (٦)
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (At Tahrim: 6).
Begitu pentingnya pembinaan dan pendidikan anak sehingga Allah melimpahkan tanggung jawab ini kepada orang tua. Karena sebenarnya anak itu adalah aset orang tua di hari akhir kelak. Betapa bahagianya orang tua yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan shalihah, yang bisa mendoakan kedua orang tuanya baik saat masih hidup di dunia maupun jika sudah meninggal kelak.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila seorang telah meninggal dunia, maka seluruh amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim: 1631).
Dilatarbelakangi dari firman Allah Swt. dan hadis Rasulullah Saw. maka sudah sepatutnya orang tua berkewajiban terhadap pendidikan anaknya. Menurut penulis pendidikan yang dimaksud di sini lebih fokus kepada pendidikan dasar. Dalam islam pendidikan awal dimulai dari pendidikan akidah, mengetahui kewajiban dan larangan dalam beragama dan pembentukan karakter. Orang tua seharusnya berusaha mendidik anaknya untuk selalu taat kepada Alah, karena itu merupakan hal yang paling mendasar dan juga merupakan salah satu jalan untuk membentuk anak menjadi anak yang shalih.
Menghadapi masa belajar daring selama Covid-19 orang tua tidak boleh lengah, banyak hal yang harus menjadi perhatian. Terutama sekali masalah pembinaan karakter anak, pembinaan akhlak.
Anak-anak harus diberi edukasi bagaimana penggunaan jaringat internet yang bijak, baik itu media sosial maupun aplikasi-aplikasi yang dengan sangat mudah mereka dapatkan. Mereka harus pandai memilah dan memilih baik dari sisi manfaat maupun mudharatnya. Peran orang tua disini selain memberi pemahaman juga harus ada pengontrolan.
Kenapa harus ada pengontrolan?, karena kita tahu di usia tersebut rasa ingin tahu mereka yang begitu besar terhadap sesuatu yang baru, rasa ingin mencoba, dan pembuktian jati diri. Jadi dalam hal ini peran orang tua sangat penting agar anak tidak terjerumus kepada hal-hal yang tidak kita inginkan
jadi tanggung jawab terhadap pendidikan anak harus ditangani langsung oleh kedua orang tua. Para guru di lembaga-lembaga pendidikan, hanyalah partner bagi orang tua dalam proses pendidikan anak.
Semoga semua orang tua kembali menyadari kewajiban dan tanggung jawabnya terhadap pendidikan anak, jadi kesibukan dengan pekerjaan bukan menjadi alasan untuk terlepas dari tanggung jawab dan perannya sebagai orang tua. Harapan kita semua semoga anak-anak kita berhasil dikehidupannya dunia akhirat.
#Hikmah dibalik bencana Covid -19#
#Tulisan kedua dari pelatihan belajar menulis#
#Nurmasyithah#
Bagus sekali Ibu Nurmasyitah.
BalasHapusPendidikan anak utamanya memang tanggung jawab orang tua.
Bisa ditambahkan aspek HOW; bagaimana orang tua mengimplementasikan tanggung jawab tersebut sekarang ini. Apa yang harus mereka lakukan?
Penulisan yang benar adalah "di antaranya".
Terus menulis yang bagus seperti ini ibu.
Sukses selalu.
Terima kasih atas koreksi dan masukannya Coach. Sudah diedit, semoga tulisan ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca.
BalasHapus