ZAt aditif pada makanan
Zat Aditif pada makanan
Makanan merupakan kebutuhan pokok manusia, dengan adanya makanan maka manusia akan dapat melaksanakan segala aktivitas hidupnya, karena makanan dapat memberikan energi dan membantu proses tumbuh kembang tubuh dan otak. Protein merupakan salah satu nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk tumbuh kembangnya.
Dalam memilih makanan seharusnya bukan hanya
prioritas enak saja yang diperhatikan tetapi juga makanan tersebut sehat untuk
tubuh. Makanan sehat adalah makanan yang mengenyangkan, berenergi dan
cukup mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh diantaranya protein,
karbohidrat, lemak, vitamin dan air.
Zaman sekarang saat anda ingin makan makanan
tertentu tidak harus memasak sendiri, banyak aplikasi online yang bisa digunakan
untuk memesan makanan dan dalam sekejap makanan sudah dapat dinikmati. Anda
juga dapat dengan mudah menemukan makanan di warung, cafe, kantin sekolah
bahkan pinggir-pinggir jalan ada banyak orang yang menjaja makanan.
Coba perhatikan makanan dan minuman anak-anak, es
krim misalnya. Warnanya mencolok dengan rasa yang beragam tentunya bukan hanya
anak kecil yang tergoda tetapi orang dewasa juga menyukainya. Bagaimana dengan
makanan ringan yang anda beli? Selain renyah, rasanyapun gurih dan enak. Nah,
zat yang membuat makanan bercita rasa enak dan warna menggoda disebut dengan
zat aditif.
Pola hidup masyarakat yang semua serba instan akan menguntungkan para pengelola usaha makanan. Hal ini sebenarnya tidak salah, tetapi kadang kala sebagian makanan tersebut ditambahkan bermacam zat aditif untuk meningkatkan cita rasa dan kualitas tampilannya serta untuk memperpanjang masa simpan makanan tersebut. Penggunaan zat aditif dalam waktu lama dan jumlah yang tidak terkontrol bisa berdampak buruk pada kesehatan.
Zat aditif adalah zat yang ditambahkan saat pengolahan makanan untuk meningkatkan kualitas makanan , baik secara rasa, tampilan, tekstur, dan masa kadaluarsanya. Pada umumnya zat aditif dibagi menjadi dua bagian besar yaitu:
a. Zat aditif alami, yaitu aditif yang terdapat
dalam makanan dalam jumlah sangat kecil akibat dari proses pengolahan. Pada nasi kuning, zat pewarna yang digunakan adalah
zat pewarna alami, yaitu kunyit. Zat pewarna alami lainnya adalah daun pandan
dan buah naga. Walaupun zat pewarna alami lebih sehat, tapi warna yang
dihasilkan tidaklah secerah zat pewarna buatan.
b. Zat aditif sintetik, yang diberikan sengaja
dengan maksud tertentu, misalnya untuk meningkatkan konsistensi, nilai gizi,
cita rasa, mengendalikan keasaman atau kebasaan, memantapkan bentuk dan rupa,
dan lain sebagainya. zat aditif
buatan diperoleh melalui proses kimia, termasuk untuk zat pewarna.
Strukturnya diusahakan menyerupai pewarna alami. Zat pewarna buatan lebih murah
dan warnanya lebih cerah, tapi konsumsi berlebih bisa memberikan efek samping.
Pernahkah Anda mengamati kolom komposisi yang tercantum di kemasan
makanan? Besar kemungkinan Anda akan menemukan beberapa nama bahan tertentu,
seperti monosodium glutamate (MSG), asam benzoat, atau tartrazin, yang
mungkin sering Anda lihat, tapi asing dengan pengertian maupun fungsinya.
Sebagian besar
zat aditif yang digunakan untuk makanan
adalah zat aditif sintetik. Hal ini karena mudah di dapat dan praktis dalam
penggunaannya. Sebenarnya sangat banyak zat aditif yang terdapat di lingkungan
sekitar kita. Misalnya saat memasak lauk di rumah untuk penyedap anda dapat
menggunakan bumbu dapur dan rempah-rempah yang akan memberikan cita rasa yang diinginkan. Biasanya bawang
merah dan bawang putih merupakan bumbu yang dapat diandalkan menjadi penyedap.
Tentunya dengan takaran yang pas dan sesuai. Untuk rasa gurih dalam cemilan
ringan racikan bumbu dapur yang tepat akan memberikan rasa yang tidak kalah
dibandingkan dengan penggunaan zat
aditif sintetik.
Segala sesuatu
yang masuk ke dalam pencernaan akan diproses oleh tubuh melalui proses
metabolisme. Tubuh akan tumbuh dan berkembang dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi.
Dewasa ini sangat banyak penderita penyakit
degeneratif akibat pola makan yang salah. Bahkan penderitanya banyak dari
kalangan anak-anak sekalipun.
Tidak heran kalau
kita mendengar atau membaca dari berbagai sumber ada anak di bawah umur yang menderita gagal ginjal dan mengaruskan
mereka rutin cuci darah, kita tidak dapat membayangkan mereka menjadi pasien
tetap di ruang hemodialisa akibat
dari ginjalnya yang tidak berfungsi lagi. Belum lagi meningkatnya angka
penderita kanker dikalangan anak-anak. Tentunya diantara berbagai faktor
pencetus, makanan termasuk menjadi salah satu pemicu terjadinya kanker. Begitu banyak hasil penelitian para ahli yang menyatakan
kesalahan dalam makanan dapat mengganggu beberapa kerja tubuh, hingga akhirnya
baik langsung ataupun tidak langsung dalam jangka waktu tertentu dapat
menimbulkan berbagai penyakit, seperti : penyakit kronis pada jantung,
paru-paru, darah tinggi (hypertenssion),
diabetes, penyakit lambung dan usus (peptic
ulcer disease), kegemukan (obesity),
depresi, tumor, kanker dsb.
Anak-anak
yang dari kecil sudah dikenalkan dengan makanan junk food dan makanan cepat
saji lainnya kemungkinan besar mereka tidak menyukai lagi makan rumahan. Kita
tahu sebagian besar makan instan tidak bebas dari zat aditif, karena itu merupakan
salah satu trik untuk menjaring konsumen. Maka sudah menjadi kewajiban orang
tua untuk memperhatikan kesehatan seluruh anggota keluarga, salah satu
diantaranya adalah cerdas memilih, cerdas mengolah dan menyajikan makan.
Bagi
anda yang muslim memilih makanan bukan
hanya baik menurut kesehatan saja yang diperhatikan tetapi ada yang lebih
penting yaitu kehalalannya. Halal zatnya, halal cara mendapatkannya dan halal
proses pengolahannya. Meski lahir lebih 14 abad
silam, Islam telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Ajaran Islam mencakup seluruh
aspek kehidupan, tak terkecuali masalah makan. Oleh karena itu bagi kaum
muslimin, makanan di samping berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, juga
berkaitan dengan ruhani, iman dan ibadah juga dengan identitas diri, bahkan
dengan perilaku
Allah
SWT berfirman dalam surat Al-Maidah
ayat 88, yang artinya: “Dan makanlah
makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan
bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 88)
Selain
itu dalam surat Al- Baqarah ayat 168
Allah SWT berfirman, yang artinya: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal
lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti
langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang
nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah: 168).
Dari
dua ayat tersebut, makanan dan minuman yang boleh dimakan umat islam adalah
yang memenuhi dua syarat yaitu halal,
yang artinya diperbolehkan untk dimakan dan tidak dilarang oleh hukum syara’,
dan baik (Thayyib) yang artinya makanan
itu bergizi dan bermanfaat untuk kesehatan.
Makanan berlabel halal hanya
mengandung bahan-bahan yang sepenuhnya diizinkan untuk dikonsumsi oleh muslimin dan belum bersentuhan dengan makanan non-halal. Sedangkan thayyib/baik itu menjadi
pertimbangan kesehatan anda saat anda
memilih makanan.
Jadi bagi
seorang muslim makan dan makanan bukan sekedar penghilang lapar saja atau
sekedar terasa enak dilidah, tapi lebih jauh dari itu mampu menjadikan tubuhnya
sehat jasmani dan rohani sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai
"khalifah fil Ardhi". Rasulullah Saw. pernah berkata dalam suatu
hadistnya: "Seorang hamba Allah tidak akan berpindah dua kakipun pada hari
kiamat, sampai ia mampu menjawab empat hal: umurnya bagaimana dihabiskan,
pengetahuan bagaimana diamalkan, hartanya bagaimana dinafkahkan
serta tubuhnya bagaimana digunakan atau diboroskan" (HR.Tirmidzi).
1. MSG (Monosodium glutamat) alias mecin merupakan zat aditif yang sering digunakan sebagai penyedap rasa pada makanan. Penggunaan mecin tidak terbatas hanya pada makan cepat saji, makanan rumahan pun masih sering ditambahkan untuk menambah kelezatan suatu makanan.
Biasanya saat sudah mengkonsumsi makanan yang terdapat mecin didalamnya kita akan merasa haus terus menerus bahkan ada sebagian orang yang merasa mulut dan tenggorokannya kering. Efek MSG terhadap kesehatan masih menjadi perdebatan dikalangan ahli kesehatan. Beberapa pakar berbendapat bahwa mecin dapat membuat sakit kepala dan mual, bahkan sebagian ada yang menyebabkan gangguan pada sel saraf dan diyakini dapat membuat kerja otak menjadi lamban(lemot).
Terlepas dari kontroversi bahaya MSG, Badan Kesehatan dunia (WHO), Food and Agriculture Organization (FAO) DAN Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat serta Kementrian Kesehatan RI sudah menyatakan bahwa MSG sebagai zat tambahan yang aman digunakan dalam makanan.
Sebagai konsumen kita dituntut untuk cerdas, biarpun sudah dinyatakan aman tapi kalau penggunaannya dalam jumlah banyak dan dalam waktu yang lama tentunya akan ada efek bagi kesehatan kita
Lanjut ke Part 2
Komentar
Posting Komentar